Ikhlash adalah rahasia dari rahasia-Ku
Hadits tersebut lemah, dilemahkan oleh al-Hafidz al-Iraqi dalam takhrijnya terhadap hadits-hadits Ihya’, sebagaimana dinukilkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (2/92) [cetakaan kelima, maktabah al-Ma'arif], berikut nukilannya:
630 – “Allah ta’ala berfirman: Ikhlash adalah rahasia dari rahasia-Ku. Aku menitipkannya ke hati orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.”
DHAIF (LEMAH)
Disebutkan oleh al-Ghazzaali dalam al-Ihya’ (4/322) dari al-Hasan ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
Al-Hafidz al-Iraqi berkata dalam takhrijnya:
“Kami meriwayatkannya di juz’ dari musalsalat al-Qazwini secara musalsal (berantai) berkata setiap perawinya: “Aku bertanya Fulan tentang ikhlash? Maka ia menjawab: …”
Dan ia dari riwayat Ahmad bin ‘Athaa’ al-Hujaimi dari’Abdul Waahid bin Zaid, keduanya matruk (perawi yang ditinggalkan -pent). Abul-Qasim al-Qusyairi juga meriwayatkannya dalam “ar-Risalah” dari hadits ‘Ali bin Abi Thalib dengan sanad yang dha’if (lemah).” – selesai perkataan al-Iraqi.
Peringatan:
Hadits ini ada dalam kitab “Min Hadyil Islam” (Di antara petunjuk Islam) yang menjadi buku pegangan pelajaran tingkat kedelapan (hal. 74, diterbitkan tahun 1375H – 1955M) yang disandarkan kepada al-Hakim, dan aku (al-Albani) tidak mendapati orang yang menyandarkannya kepada beliau maka ini kemungkinan besar adalah kekeliruan. Wallahu a’lam.
— selesai nukilah dari as-Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah.
Rujukan awal dari http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?p=28904
Tambahan dari saya:
Al-Hasan al-Bashri (wafat 110H):
Dalam biografi beliau rahimahullah, tidak disebutkan bahwa beliau meriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu (wafat 36H).
‘Abdul Wahid bin Zaid (wafat sesudah 150H):
Adz-Dzahabi berkata dalam Siyar A’lamin Nubala’:
“… dan haditsnya termasuk kategori wahiy (lemah) di sisi mereka.
Al-Bukhari berkata: mereka meninggalkannya
An-Nasa’i berkata: Matrukul Hadits
Ibnu Hibban berkata: Beliau di antara orang yang dikuasai oleh ibadah sehingga lalai dalam ketelitian, maka banyaklah hadits-hadits munkar dalam haditsnya.
…”
Ahmad bin ‘Athaa’ al-Hujaimi (wafat 200H):
Adz-Dzahabi berkata dalam Siyar A’lamin Nubala’:
“Syaikh shufiyyah, ‘Abid (ahli ‘ibadah), Qanit (panjang shalatnya), Ahmad bin ‘Athaa’ al-Hujaimi al-Bashri al-Qadariy (seorang penganut sekte Qadariyyah, yaitu yang menentang taqdir) al-Mubtadi’ (seorang ahli bid’ah). Betapa buruknya orang-orang zuhud yang menjadi pelaku bid’ah.”
Kemudian beliau membawakan sejumlah nukilan tentang beliau. Beliau menyebutkan jarh (pencacatan) terhadapnya oleh beberapa ahli hadits.
Bahkan, dalam software Jawami’ul Kalim, didapati hadits yang semakna ini ada sepuluh jalur: satu jalur Muttaham bil wadh’ (diduga palsu), enam jalur syadidud dha’f (sangat lemah), dan tiga jalur dha’if (lemah). Wallahu a’lam.
Explore posts in the same categories: hadits