Membaca Al-Qur’an Sesudah Ashar

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/19463

Soal:
Sesungguhnya aku membaca sesudah shalat ashar setiap hari sebanyak dua juz dari al-Qur’an. Pengarahanmu tentang hal ini? Jazakumullahu khairan (semoga Allah memberikanmu ganjaran kebaikan).

Jawab:

Dengan nama Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Shalawat dan salam ke atas Rasulullah, keluarga dan para shahabatnya, serta orang-orang yang mengambil petunjuk dengan petunjuknya.

Amma ba’du. Membaca Al-Qur’anul Karim senantiasa disyariatkan pada seluruh waktu, malam dan siang. Al-Qur’an adalah Kalamullah – azza wa jalla -, ia adalah perkataan yang paling utama, diturunkan, bukan makhluk, dari-Nya ia bermula, dan kepada-Nya ia kembali. Maka ia adalah Kalam-Nya – subhanah – sebagaimana segenap sifat-sifatnya seperti al-Ilmu, ar-Rahmah, ar-Ridha, al-Ghadhab (murka), as-Sam’ (mendengar), dan al-Bashar (melihat). Semuanya adalah sifat-sifat Allah – jalla wa ‘ala – yang sesuai dengan-Nya – subhanahu wa ta’ala -. Maka Kalam-Nya sesuai dengan-Nya tidak menyerupai kalam selain-Nya – jalla wa ‘ala.

Ia (al-Qur’an) adalah kitab yang paling utama dan Kalam yang paling utama yang Allah jadikan sebagai petunjuk bagi para hamba dan mau’izhah (pelajaran) , dzikra (pengingat) dan tabshirah (pelajaran). Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (Al-israa’: 9)

Allah subhanah berfirman:

“Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.” (Fushshilat: 44)

Allah subhanah berfirman:

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl: 89)

Maka apabila seseorang membacanya sesudah ashar, sesudah shubuh, atau seluruh waktu, maka semuanya adalah baik. Membacanya sesudah ashar memiliki faidah, karena dzikir di akhir siang pada waktu sore adalah perkara yang dituntut, begitu pula di awal siang. Dan ia (membaca al-Qur’an) adalah dzikir yang paling utama dan agung, tetapi disyariatkan bagi pembaca untuk serius dalam membaca dengan khusyu’, tadabbur, memikirkan maknanya, dan kecintaan untuk mendapat faidah (dari bacaannya), sebagaimana Allah subhanah berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. ” (Shad: 29).

Allah subhanah berfirman:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24).

Maka yang disyariatkan bagi pembaca, lak-laki dan perempuan, supaya mentadabburi, dan memikirkan, dan serius dengan (menggapai) makna-makna(nya) sehingga ia mendapatkan faidah kemudian beramal, sama saja dia membaca dari mushaf atau dari hafalan.

Yang disyariatkan bagi seorang insan adalah menemukan waktu-waktu yang sesuai yang pada waktu tersebut dia bisa untuk lebih khusyu’ dan tadabbur, baik ketika ashar, malam, akhir malam, atau awal pagi. Ia mencari waktu yang sesuai yang ia harapkan pada waktu tersebut bacaannya lebih sempurna dari sisi khusyu, tadabbur, pemikiran, dan penerimaan terhadap makna-makna al-Qur’an.

Telah shahih dari Rasulullah – alaihis shalatu was salam – bahwa beliau bersabda:

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan diganjar sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif-lam-mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” [1] . Ini adalah keutamaan dari Allah – jalla wa ‘ala.

Beliau – alaihis shalatu was salam – bersabda:

“Bacalah al-Qur’an karena ia datang sebagai pemberi syafa’at bagi pemiliknya pada hari kiamat” [2].

Beliau – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda:

“Diseru [3] dengan al-Qur’an pada hari kiamat dan ahlinya yang dahulu mereka mengamalkannya. Surah al-Baqarah dan Ali Imran mendahuluinya, keduanya membela pembaca keduanya.” [4]

Beliau – ‘alaihis shalatu was salam – bersabda:

“Siapa di antara kalian yang suka untuk pergi ke Buthan – suatu lembah di Madinah – kemudian dia datang dengan dua ekor unta betina yang besar [5] tanpa (diraih dengan) dosa atau memutus silaturrahim?” Mereka menjawab: “Setiap dari kami menyukai hal itu wahai Rasulullah.” Beliau – ‘alaihis shalatu was salam – bersabda: “Sungguh seseorang di antara kalian pergi [6] menuju masjid kemudian dia mengetahui satu ayat [7] dari kitabullah adalah lebih baik baginya dari dua ekor unta betina yang besar. Dan tiga ayat lebih baik dari tiga unta, empat ayat lebih baik empat unta, dan (seterusnya) dari bilangan jumlah unta tersebut.” [8] atau sebagaimana sabda beliau – ‘alaihis shalatu was salam. Ini menunjukkan keutamaan membaca dan mempelajari (al-Qur’an).

Beliau – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” [9]

Manusia pilihan adalah Ahlul Qur’an (yaitu yang) mempelajari, mengajarkan, dan mengamalkannya.

Beliau – shallallahu ‘alaihi wa sallam – juga bersabda:

“Dan al-Qur’an itu hujjah (pembela) bagimu atau (penuntut keburukan) atasmu” [10]

Dalam hadits Abu Malik al-Asy’ari (radhiyallahu ‘anhu), beliau – ‘alaihis shalatu was salam – bersabda:

“Bersuci itu separuh Iman, al-Hamdu lillah memenuhi timbangan, subhanallah wal hamdu lillah – atau beliau bersabda – memenuhi langit dan bumi [11], shalat itu cahaya, sedekah itu bukti, sabar itu sinar, dan al-Qur’an itu hujjah bagimu atau atasmu. Setiap manusia berpagi-pagi pergi untuk menjual dirinya. Maka ada yang membebaskannya” [12], dikeluarkan oleh Muslim dalam shahihnya.

Yang dimaksud adalah al-Qur’an itu hujjah bagimu apabila engkau mengamalkannya dan beristiqamah di atasnya. Hujjah atasmu apabila engkau menyia-nyiakannya dan tidak beristiqamah di atasnya.

Maka yang wajib atas shahibul Qur’an untuk serius dengan al-Qur’an, dengan ilmu dan amal, juga untuk waspada atas penyelisihan terhadap perintah-perintah al-Qur’an atau terjatuh melakukan larangan-larangan al-Qur’an. Justru dia bersemangat untuk mengerjakan perintah-perintahnya dan meninggalkan larangan-larangannya. Bersemangat untuk mentadabburi dan memikirkan (isi kandungannya), mengharap ganjaran dari Allah dan takut hukumannya – subhanahu wa ta’ala. Jazakumullahu khairan (semoga Allah memberikanmu ganjaran kebaikan)

[1] HR. At-Tirmidzi: 2910 dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Takhrij Ath-Thahawiyyah:139 dan al-Misykah: 2137.

[2] HR. Muslim: 804 (252), dari shahabat Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu. Lihat syarah shahih Muslim (3/349).

[3] Dalam riwayat Muslim disebutkan dengan lafadz Utia (didatangkan).

[4] HR. Muslim: 805 (253), dari shahabat an-Nawwas bin Sam’an al-Kilabi rhadhiyallahu ‘anhu, dibawakan oleh Syaikh secara makna. Lihat syarah shahih Muslim (3/350).

[5] Dalam riwayat Muslim disebutkan dengan lafadz Kaumaawaini. Imam an-Nawawi berkata: al-Kaumaa’ dari unta – dengan memfathahkan huruf kaaf – adalah yang besar lagi gemuk.

[6] Dalam riwayat Muslim: yaghdu (berpagi-pagi pergi)

[7] Dalam riwayat Muslim disebutkan “mengetahui atau membaca dua ayat dari kitabullah”. Dalam riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya: “mempelajari dua ayat dari kitabullah.”

[8] HR. Muslim: 803 (251) dari shahabat ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, dibawakan oleh Syaikh secara makna. Lihat syarah shahih Muslim (3/348-349). Dikeluarkan juga oleh Abu Dawud: 1456, Ahmad: 16955, ibnu Hibban: 115, dan lain-lain.

Mengenai penafsiran potongan terakhir dari hadits tersebut, disebutkan dalam ‘Aunul Ma’bud (4/329-330):

“Semisal jumlah bilangannya” (a’dadihinna) – bentuk jama’ dari ‘adad.

“dari unta (ibil -unta jantan atau betina)” sebagai penjelas untuk bilangan, maka lima ayat lebih baik dari lima unta (ibil), dan seterusnya dengan analogi ini. Dalam lafadz Muslim: “Dan dari jumlah bilangannya dari unta (al-ibil), maka dimungkinkan bahwa yang dimaksud adalah dua ayat lebih baik dari dua unta betina (naqah) dan dari bilangan keduanya dari unta (ibil). Tiga ayat lebih baik dari tiga unta betina (naqah) dan dari bilangannya dari unta (ibil), begitu pula empat. Kesimpulannya, bahwa ayat-ayat al-Qur’an mengungguli bilangan unta betina dan unta (ibil). Begitulah yang dikatakan ath-Thibi. Kesimpulannya, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghendaki menggesa mereka terhadap yang kekal dan zuhud terhadap yang fana’. Maka beliau menyebutkan ini hanya untuk tujuan permisalan dan pendekatan kepada pemahaman orang yang sakit. Kalau tidak, maka keseluruhan dunia lebih hina untuk dibandingkan dengan mengenal satu ayat dari kitabullah atau ganjarannya berupa derajat yang tinggi.

[9] HR. al-Bukhari: 5027 dan lain-lain dari shahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.

[10] HR. Muslim: 223 dari shahabat Abu Malik al-Harits bin ‘Ashim al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

[11] Yang benar, sebagaimana dalam riwayat Muslim, “subhanallah wal hamdulillah memenuhi antara langit-langit dan bumi.

[12] kelanjutannya: “atau membinasakan dirinya”. Riwayat Muslim: 223.

Explore posts in the same categories: serba-serbi

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.