Orang yang malang adalah orang yang tidak sempat berwasiat?
Al-Imam Ibn Majah berkata:
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ، حَدَّثَنَا دُرُسْتُ بْنُ زِيَادٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ الرَّقَاشِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم: “الْمَحْرُومُ مَنْ حُرِمَ وَصِيَّتَهُ“
Telah menceritakan kepada kami (1) Nashr bin ‘Ali al-Jahdhami, telah menceritakan kepada kami (2) Durustu bin Ziyad, telah menceritakan kepada kami (3) Yazid ar-Raqqasyi, dari (4) Anas bin Malik, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang terhalangi (malang) adalah orang yang terhalangi untuk membuat wasiat”
(Sunan Ibn Majah, kitabul washaya (22) babul hatstsi alal washiyyah (2), no 2700)
Syaikh al-Albani mendhaifkannya dalam dhaif sunan ibn Majah hal. 216, no. 534 dan Dha’iful Jami’ (5916). Beliau mengisyaratkan takhrij lengkapnya pada kitab at-Ta’liqur Raghib: 4/166, tetapi sepertinya kitab ini masih berbentuk manuskrip.
Berikut penjelasan kedudukan perawi dalam sanad tersebut:
- Nashr bin ‘Ali bin Nashr bin ‘Ali bin Shuhban bin Abil Azdi al-Jahdhami Abu ‘Amr al-Bashri ash-Shaghir (Wafat: 250H atau sesudahnya): Ibn Hajar berkata: “Tsiqah, tsabat, ia menolak ketika diminta untuk menjadi Qadhi”. Ia merupakan perawi Bukhari, Muslim, dan Ashhabus Sunan.
- Durustu bin Ziyad al-’Anbari, (dikatakan) al-Qusyairi Abul Hasan, dikatakan Abu Yahya, al-Bashri al-Qazzaz (Wafat: 181-190H): ibn Hajar berkata: Dhaif/Lemah. Ia merupakan perawi Abu Dawud dan ibn Majah
- Yazid bin Aban ar-Raqqasyi Abu ‘Amr al-Bashri, al-Qash (Wafat sebelum 120H): ibn Hajar berkata: Dhaif Zahid. Dalam al-Mathalibul ‘Aliyah: Sayyi’ul Hifzh jiddan (sangat lemah hafalannya), banyak hadits munkarnya, dan dia tidak teliti dalam hal sanad. Dia menisbatkan kepada Anas setiap yang dia dengan dari selainnya. Ia merupakan perawi At-Tirmidzi dan ibn Majah, juga al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad.
- Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Shahabat yang masyhur, wafat 92/93H.
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la dalam Musnadnya dari Ishaq bin Abi Israil dan ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil fi Dhuafair Rijal dari Muhammad bin Ibrahim ad-Daybuliy dari Abdul Hamid bin Shubaih, keduanya meriwayatkan dari jalur Durustu bin Ziyad dengan sanad yang sama tetapi dengan matan yang lebih lengkap:
كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم فَجَاءَ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَاتَ فُلانٌ، قَالَ: ” أَلَيْسَ كَانَ مَعَنَا آنِفًا؟ “، قَالُوا: بَلَى، قَالَ: ” سُبْحَانَ اللَّهِ، كَأَنَّهَا إِخْذَةٌ عَلَى غَضَبٍ،الْمَحْرُومُ مَنْ حُرِمَ وَصِيَّتَهُ“
Dahulu kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian datang seorang laki-laki kemudian dia berkata: Wahai Rasulallah, Si Fulan telah meninggal. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bukankah dia bersama kita barusan? Mereka menjawab: Benar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Mahasuci Allah, seakan-akan kematiannya suatu pengambilan mendadak di atas kemurkaan. Orang yang terhalangi (malang) adalah orang yang terhalangi untuk membuat wasiat”
(Dalam al-Kamil, digunakan: Ya subhanalallah, yaknidengan tambahan huruf nida)
Hadits ini diriwayatkan pula oleh ibn Hibban dalam al-Majruhin dari Muhammad bin al-Musayyab dari ‘Abbas bin Yazid al-Bahrani dengan sanad yang sama tetapi dengan matan yang mirip dengan riwayat Abu Ya’la dan ibn ‘Adi di atas:
كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَاهُ رَجُلٌ ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَاتَ فُلانٌ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَلَيْسَ مَرَّ بِنَا آنِفًا ” ؟ قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَاتَ فَجْأَةً ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” سُبْحَانَ اللَّهِ كَأَنَّهَا أَخْذَةٌ عَلَى غَضَبٍ ” ، ثُمَّ قَالَ : ” إِنَّ الْمَحْرُومَ مَنْ حُرِمَ الْوَصِيَّةَ“
Dahulu kami berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka seorang laki-laki mendatanginya kemudian berkata: Si Fulan telah meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukankah dia baru saja melewati kami” Mereka menjawab: benar wahai Rasulallah. Dia mati mendadak. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Mahasuci Allah, seakan-akan kematiannya suatu pengambilan mendadak di atas kemurkaan. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang terhalangi (malang) adalah orang yang terhalangi untuk membuat wasiat.”
Jadi, sanadnya berporos pada Durustu bin Ziyad dari Yazid bin Aban yang keduanya dhaif.
Hadits ini dilemahkan pula oleh al-Mundziri sebagaimana dinukilkan oleh al-Munawi dalam Faidhul Qadir:
9178 – (المحروم من حرم الوصية) قاله لما قيل هلك فلان فقال: أليس كان عندنا آنفاً فقيل: مات فجأة فذكره وللحديث تتمة وهي من مات على وصية مات على سبيل وسنة وتقى وشهادة ومات مغفوراً له، وفيه أن الوصية سنة مؤكدة بل تجب على من عليه أو عنده حق للّه أو لآدمي بلا شهود وكانت الوصية أول الإسلام واجبة للأقارب ثم نسخ وجوبها بآية المواريث وبقي الندب.
- (ه عن أنس) بن مالك، وضعفه المنذري وذلك لأن فيه درست بن زياد البزار قال في الكاشف: وهاه أبو زرعة عن يزيد الرقاشي وقد مر ضعفه غير مرة.
“Orang yang terhalangi (malang) adalah orang yang terhalangi untuk membuat wasiat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya ketika dikatakan kepadanya bahwa si Fulan telah binasa, maka beliau bersabda: Bukankah dia bersama kita barusan? Maka dikatakan: Dia mati mendadak, kemudian beliau menyebutkan hadits tersebut. Hadits ini ada kelanjutannya, yaitu: Barangsiapa yang meninggal di atas wasiat, dia mati di atas jalan (kebenaran), sunnah, ketakwaan, dan syahid. Dia meninggal dalam keadaan diampuni.
Dalam hadits ini terdapat (dalil) bahwa wasiat hukumnya sunnah muakkadah bahkan diwajibkan ke atas orang yang dia memiliki kewajiban berupa hak Allah atau manusia tanpa adanya saksi. Wasiat pada awal islam hukumnya wajib untuk karib kerabat kemudian dihapus kewajibannya dengan ayat warisan menjadi sunnah.
(Kode H – yaitu riwayat ibn Majah – dari Anas) bin Malik. Hadits ini dilemahkan oleh al-Mundziri karena dalam sanadnya terdapat Durustu bin Ziyad al-Bazzar. Berkata (adz-Dzahabi) dalam al-Kasyif: Abu Zur’ah melemahkannya dari Yazid ar-Raqqasyi” Telah lalu penjelasan akan kelemahannya lebih dari sekali.
- Selesai kutipan dari Faidhul Qadir.
Kesimpulannya, haditsnya adalah Dhaif. Wallahu a’lam
Explore posts in the same categories: hadits